Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel menjadi salah satu solusi strategis dalam mengurangi limbah rumah tangga sekaligus menyediakan sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, proses produksi biodiesel dari minyak bekas melalui reaksi transesterifikasi masih menghasilkan berbagai pengotor, seperti gliserol, sabun, dan sisa katalis, yang dapat menurunkan kualitas produk akhir. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan suatu metode pemurnian inovatif yang mengintegrasikan proses sentrifugasi dan elektrokoagulasi. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas biodiesel, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran aplikatif bagi siswa di bidang teknik kimia industri. Melalui metode ini, proses pemurnian dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan metode konvensional. Sentrifugasi berperan dalam mempercepat pemisahan fase antara biodiesel dan gliserol dengan memanfaatkan gaya sentrifugal. Proses ini memungkinkan pemisahan terjadi dalam waktu yang lebih singkat dan dengan hasil yang lebih jelas. Selanjutnya, elektrokoagulasi digunakan untuk mengendapkan zat pengotor yang masih terlarut dalam biodiesel. Teknik ini bekerja dengan memanfaatkan arus listrik untuk membentuk flok yang mampu mengikat dan mengendapkan kontaminan secara efektif. Hasil penerapan metode terintegrasi ini menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan. Waktu pemurnian dapat dipersingkat hingga sekitar 60% dibandingkan metode pencucian basah maupun kering yang umum digunakan. Selain itu, biodiesel yang dihasilkan memiliki tampilan yang lebih jernih dan stabil, menandakan kualitas yang lebih baik. Kegiatan ini juga dikemas dalam bentuk pelatihan berbasis praktik langsung di laboratorium, sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dalam setiap tahapan proses, mulai dari persiapan bahan, pengoperasian alat, hingga evaluasi hasil. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa secara signifikan, yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata hingga lebih dari 60%. Lebih dari itu, program ini memberikan nilai tambah bagi institusi pendidikan dengan memperkuat wawasan siswa terkait energi terbarukan, meningkatkan kompetensi teknis dalam penggunaan peralatan laboratorium, serta mendukung implementasi pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan kebutuhan dunia industri. Dengan demikian, metode ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas biodiesel, tetapi juga berperan dalam penguatan kompetensi vokasi yang berpotensi untuk diterapkan secara luas di berbagai sekolah kejuruan. Sumber: Fauziyah, M., Kartikowati, C. W., Puspitasari, D. A., Saptati, D., Hidayati, N., Yulaichah, S., Kimia, D. T., Brawijaya, U., Malang, K., Timur, J., Teknik, K., Industri, K., Kepanjen, S. M. K. M., & Timur, J. (2025). Integrasi Proses Sentrifugasi-Elektrokoagulasi sebagai Inovasi Pemurnian Biodiesel Minyak Jelantah bagi Siswa menurunkan sifat fisik maupun kimia POME ( Palm Oil Mill Effluent ) yang lebih cepat dan minim limbah . grade . Hal ini dikarenakan parameter. 22(3), 338–349.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam bidang kesehatan, khususnya dalam desain dan produksi perangkat prostetik. Salah satu pendekatan yang kini banyak dikembangkan adalah penggabungan antara reverse engineering (RE) dan additive manufacturing (AM). Kombinasi kedua teknologi ini dinilai mampu menghadirkan solusi inovatif yang lebih personal, efisien, dan berkualitas tinggi bagi pengguna alat bantu prostetik. Reverse engineering memungkinkan proses pemodelan ulang suatu objek berdasarkan bentuk fisik yang sudah ada, seperti bagian tubuh pasien. Dengan bantuan teknologi pemindaian, data anatomi dapat dikonversi menjadi model digital yang akurat. Model ini kemudian digunakan dalam proses additive manufacturing, yaitu teknik pencetakan tiga dimensi (3D printing) yang memungkinkan pembuatan produk secara bertahap lapis demi lapis. Integrasi ini membuka peluang besar dalam menciptakan prostetik yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan RE dan AM dalam pengembangan prostetik mampu meningkatkan presisi dimensi dan kualitas mekanis produk. Selain itu, proses produksi menjadi lebih cepat dan biaya dapat ditekan dibandingkan metode konvensional. Tingkat kenyamanan dan kepuasan pengguna juga cenderung meningkat karena perangkat yang dihasilkan lebih sesuai dengan karakteristik tubuh masing-masing individu. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah terkait dengan biokompatibilitas material yang digunakan, agar aman dan nyaman saat digunakan dalam jangka panjang. Selain itu, belum adanya standar baku dalam proses desain dan produksi juga menjadi kendala dalam implementasi yang lebih luas. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara peneliti, tenaga medis, dan pihak industri untuk terus mengembangkan teknologi ini. Dengan dukungan riset berkelanjutan dan inovasi yang tepat, integrasi reverse engineering dan additive manufacturing diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup individu yang membutuhkan prostetik.
Sherbet merupakan produk pangan beku yang menyegarkan dan rendah lemak. Mentimun dikenal kaya akan vitamin C dan senyawa flavonoid, sementara sari pandan wangi berperan sebagai sumber aroma dan warna alami. Penelitian ini mengkaji karakteristik sensori sherbet mentimun dengan variasi konsentrasi sari pandan wangi dan jenis pemanis alami sebagai upaya pengembangan produk pangan berbasis bahan lokal. Uji organoleptik dilakukan pada 30 panelis dengan sembilan perlakuan, meliputi penilaian aroma, tekstur, rasa, dan warna. Hasil analisis menunjukkan bahwa variasi konsentrasi sari pandan wangi dan jenis pemanis tidak memberikan perbedaan nyata terhadap aroma, tekstur, dan rasa sherbet mentimun. Namun demikian, perbedaan signifikan ditemukan pada parameter warna, di mana peningkatan konsentrasi sari pandan wangi menghasilkan warna hijau yang semakin intens. Secara keseluruhan, kombinasi mentimun, sari pandan wangi, dan pemanis alami mampu menghasilkan sherbet dengan cita rasa yang harmonis dan tampilan menarik. Inovasi ini membuka peluang diversifikasi produk pangan beku berbasis bahan alami sebagai alternatif kudapan sehat, rendah lemak, serta sejalan dengan tren konsumsi masyarakat yang semakin mengarah pada pangan fungsional dan ramah kesehatan. Sumber : Danya Mozza Elshiva, Syarifa Ramadhani Nurbaya*, Lukman Hudi AM. Sensory Evaluation of Cucumber Sherbet ( Cucumis sativus L .) Based on Variation of Fragrant Pandan ( Pandanus amaryllifolius ). 2025;10(1):53–61.
Limbah cair yang dihasilkan industri tahu memiliki kandungan bahan organik tinggi sehingga berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam pengolahan limbah cair adalah proses koagulasi–flokulasi, namun ketergantungan pada koagulan kimia mendorong perlunya alternatif yang lebih ramah lingkungan. Biji alpukat, yang mengandung senyawa tanin, dikaji sebagai koagulan alami melalui proses ekstraksi maserasi menggunakan etanol 70% dengan variasi waktu perendaman. Hasil kajian menunjukkan bahwa waktu maserasi berpengaruh terhadap kandungan tanin, dengan kondisi terbaik diperoleh pada maserasi terlama. Aplikasi ekstrak biji alpukat sebagai koagulan alami memberikan dampak positif terhadap kualitas limbah cair tahu, antara lain: penurunan nilai COD dan TSS yang signifikan pada penambahan volume koagulan tertentu, penurunan kekeruhan limbah secara efektif pada dosis koagulan yang lebih rendah, serta perubahan pH limbah ke arah yang lebih netral meskipun masih memerlukan penyesuaian lebih lanjut. Temuan ini menunjukkan bahwa biji alpukat memiliki potensi besar sebagai koagulan alami yang dapat mendukung pengolahan limbah cair industri tahu secara lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Sumber: Robiah, Akbar Ismi Aziz Pramito, R. J. (2026). Jurnal Teknologi Kimia Mineral. November 2025, 1–7.
Kenyamanan ruang kelas menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proses belajar mahasiswa. Salah satu elemen yang sering digunakan dalam aktivitas perkuliahan adalah kursi kuliah. Namun, pada praktiknya, masih banyak mahasiswa yang merasakan ketidaknyamanan saat duduk dalam waktu lama, khususnya di kelas Ergonomi. Keluhan yang muncul umumnya berkaitan dengan bagian punggung, pinggang, dan paha, yang mengindikasikan bahwa desain kursi yang digunakan belum sepenuhnya sesuai dengan karakteristik tubuh penggunanya. Berdasarkan pengamatan langsung, wawancara, serta pengisian kuesioner oleh mahasiswa, diketahui adanya ketidaksesuaian antara dimensi kursi kuliah dengan data antropometri mahasiswa. Kondisi ini mendorong perlunya evaluasi desain kursi agar lebih ergonomis dan mampu menunjang aktivitas belajar secara optimal. Pendekatan pengukuran antropometri dilakukan pada beberapa dimensi tubuh yang berkaitan langsung dengan desain kursi, kemudian dianalisis menggunakan rentang persentil untuk mengakomodasi variasi ukuran tubuh mahasiswa. Hasil pengembangan desain menunjukkan bahwa penyesuaian dimensi kursi serta penambahan material busa pada sandaran dan alas duduk dapat meningkatkan kenyamanan dan aspek ergonomi. Desain kursi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna ini diharapkan tidak hanya mengurangi keluhan fisik mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas fasilitas pembelajaran di lingkungan perguruan tinggi. Sumber: Utami, N. A., Prasmestari, D., & Industri, T. (2026). Desain Ulang Kursi Mahasiswa Di Kelas Ergonomi Teknik Industri Universitas X. 10(2), 1–7.