Pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) merupakan tantangan penting bagi industri kimia karena berkaitan langsung dengan dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat. Berbagai kajian menunjukkan bahwa perusahaan kimia telah berupaya menerapkan pengelolaan limbah B3 sesuai dengan regulasi pemerintah serta memanfaatkan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen industri dalam menjaga keberlanjutan proses produksi dan meminimalkan risiko pencemaran. Selain penerapan aspek teknis, program Corporate Social Responsibility (CSR) berperan strategis dalam mendukung pengelolaan limbah B3, terutama melalui kegiatan edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Program CSR yang berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat terbukti mampu membantu masyarakat memahami potensi bahaya limbah B3 serta pentingnya pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Meski demikian, masih terdapat tantangan seperti keterbatasan pemahaman masyarakat dan kemungkinan terjadinya insiden pencemaran yang memerlukan perhatian lebih lanjut. Keberhasilan pengelolaan limbah B3 tidak terlepas dari kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat. Persepsi publik terhadap industri kimia sangat dipengaruhi oleh cara perusahaan mengelola limbah yang dihasilkan. Oleh karena itu, pelibatan masyarakat secara aktif melalui program CSR serta dukungan kebijakan dari pemerintah menjadi kunci untuk menciptakan pengelolaan limbah B3 yang lebih efektif, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. sumber: Yolanda, V., Studi, P., Syariah, A., Ekonomi, F., Bisnis, D., Negeri, I., Intan, R., Sisdianto, E., Studi, P., Syariah, A., Ekonomi, F., Bisnis, D., Negeri, I., & Intan, R. (2025). PENGELOLAAN LIMBAH BERBAHAYA DENGAN CSR : STUDI Vanes Yolanda. 2(1), 245–256.
Transformasi digital yang berlangsung pesat telah mendorong perubahan dalam struktur pasar tenaga kerja, salah satunya melalui munculnya ekonomi gig. Dalam sistem ini, gig worker berperan sebagai tenaga kerja yang menjalankan pekerjaan berbasis tugas atau proyek tertentu dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi. Fenomena ekonomi gig semakin relevan dalam konteks perusahaan jasa yang beroperasi di lingkungan bisnis yang dinamis dan kompetitif. Ketidakpastian dan variasi permintaan pasar menuntut perusahaan untuk memiliki kemampuan adaptasi yang cepat. Fleksibilitas tenaga kerja menjadi salah satu strategi penting dalam menjaga kinerja perusahaan. Keberadaan gig worker memungkinkan perusahaan menyesuaikan kebutuhan tenaga kerja secara lebih responsif, baik dari segi waktu, keahlian, maupun biaya operasional. Di sisi lain, ekonomi gig memberikan berbagai peluang bagi tenaga kerja, seperti fleksibilitas jam kerja, kebebasan memilih jenis pekerjaan sesuai kompetensi, serta akses terhadap peluang kerja lintas wilayah. Hubungan kerja yang fleksibel ini berpotensi menciptakan manfaat timbal balik antara perusahaan dan gig worker. Dalam konteks kinerja perusahaan jasa, fleksibilitas tenaga kerja berkontribusi pada kemampuan perusahaan dalam merespons perubahan proses bisnis dan rantai pasok secara cepat dan efektif. Pemanfaatan gig worker yang profesional dan adaptif diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional serta mendukung peningkatan kinerja perusahaan secara berkelanjutan. sumber: Hartono, M., & Tarigas, N. (2025). KONSEP FLEKSIBILITAS DALAM GIG WORKER DAN PENGARUHNYA PADA KINERJA PERUSAHAAN JASA : LITERATURE REVIEW Abstrak. 20(1).
Peran agribisnis dalam perekonomian, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan pangan dan dinamika perubahan lingkungan. Di lapangan, sektor ini masih menghadapi berbagai kendala klasik, seperti keterbatasan lahan, perubahan iklim yang sulit diprediksi, hingga praktik budidaya yang masih mengandalkan cara-cara konvensional. Tantangan-tantangan tersebut membuat peningkatan produktivitas tidak selalu mudah dicapai. Pemanfaatan teknologi menjadi peluang baru yang dapat memberikan terobosan bagi dunia agribisnis. Melalui studi literatur yang bersifat deskriptif, penelitian ini meninjau berbagai inovasi teknologi yang kini banyak diterapkan, mulai dari pertanian presisi, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), sampai bioteknologi. Berbagai teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi, memperbaiki manajemen usaha tani, serta mendukung keputusan budidaya berbasis data. Selain menyoroti manfaat, kajian ini juga mengulas tantangan terkait penerapan teknologi di sektor agribisnis, termasuk hambatan adopsi di tingkat petani, kesiapan infrastruktur, serta kebutuhan penguatan kapasitas sumber daya manusia. Pada saat yang sama, peluang pengembangan agribisnis digital semakin terbuka lebar berkat akses teknologi yang makin terjangkau dan meningkatnya dukungan dari berbagai pemangku kepentingan. Transformasi teknologi dalam agribisnis dapat menjadi strategi kunci untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan sistem pangan nasional. Inovasi seperti pertanian presisi, IoT, AI, dan bioteknologi terbukti mampu menjawab sejumlah tantangan utama yang selama ini dihadapi sektor pertanian. Meski masih terdapat hambatan dalam penerapannya, potensi untuk mempercepat modernisasi agribisnis sangat besar. Melalui kebijakan yang berpihak, kolaborasi antarsektor, serta peningkatan kapasitas petani, pemanfaatan teknologi dapat diadopsi secara lebih luas. Dengan langkah yang tepat, digitalisasi agribisnis bukan hanya berdampak pada kenaikan produktivitas, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan petani dan penguatan ketahanan pangan Indonesia. Sumber: Agustira, N. W., Sigiro, A. J., Putra, E. R., & Nur, V. (2025). Strategi Pengembangan Agribisnis Berbasis Teknologi untuk Meningkatkan Produktivitas. April.
Tomat sejak lama dikenal sebagai komoditas hortikultura yang kaya manfaat. Di balik warna cerah dan rasa segarnya, buah ini menyimpan beragam senyawa bioaktif seperti vitamin C, likopen, lutein, hingga unsur makro dan mikro penting bagi tubuh. Kombinasi unsur gizi tersebut membuat tomat tidak hanya bernilai sebagai sayuran konsumsi harian, tetapi juga berpotensi besar menjadi bahan baku pangan fungsional, jenis pangan yang memberikan manfaat kesehatan melebihi fungsi dasarnya. Sebuah studi terbaru menilai stabilitas kandungan vitamin dan mineral dari sembilan varietas tomat berwarna merah, kuning, cokelat, hingga burgundi. Varietas-varietas ini dibudidayakan di lahan terbuka di dua negara, yakni Federasi Rusia dan Republik Belarus. Perbedaan lokasi tanam memberikan gambaran lebih luas tentang bagaimana kondisi lingkungan dapat memengaruhi kualitas nutrisi dalam buah. Untuk memperoleh hasil yang akurat, peneliti menggunakan atomic emission spectrometer dengan plasma kopel-induksi untuk menentukan komposisi mineral. Sementara itu, kadar vitamin C dan karotenoid dianalisis menggunakan high-performance liquid chromatography (HPLC) yaitu metode yang umum digunakan dalam penelitian pangan karena tingkat presisinya yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa varietas memiliki keunggulan nutrisi yang menonjol. Varietas Viagra dan Chocolate, yang dibudidayakan di wilayah Voronezh, Rusia, tercatat memiliki kandungan vitamin C paling tinggi. Varietas Budenovka dari Nikonovo juga menunjukkan angka vitamin C yang sangat baik. Temuan ini mempertegas bahwa varietas tomat berwarna gelap cenderung menyimpan kadar antioksidan yang lebih tinggi. Untuk kandungan likopen/pigmen merah yang dikenal sebagai antioksidan kuat, peningkatan paling signifikan ditemukan pada varietas The Black Prince yang ditanam di Samokhvalovichi, Belarus. Varietas Volgogradskiy skorospelyi dari Nikonovo dan Bull’s Heart dari desa Khokhol turut mencatat kadar likopen yang menonjol. Kandungan likopen yang tinggi merupakan indikator penting bagi pengembangan produk pangan fungsional, karena zat ini berperan dalam mengurangi risiko penyakit degeneratif. Secara keseluruhan, studi ini menegaskan bahwa pemilihan varietas dan lokasi budidaya sangat berpengaruh terhadap stabilitas vitamin dan mineral dalam tomat. Informasi ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan produk inovatif berbasis tomat, mulai dari minuman fungsional, pasta tomat tinggi antioksidan, hingga ekstrak nutrisi alami. Bagi dunia Teknologi Rekayasa Pangan, temuan seperti ini memberikan peluang besar untuk merancang formulasi pangan fungsional yang lebih presisi dan bernilai kesehatan lebih tinggi. Tomat, yang selama ini sederhana dan mudah ditemui, ternyata menyimpan potensi yang sangat luas di era pangan modern. Sumber: Irina, Z., Irina, P., Dmitriy, E., Inessa, P., Alla, C., & Alena, P. (2024). Assessment of vitamin- and mineral-content stability of tomato fruits as a potential raw material to produce functional food. 14(1), 14–32.
Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini menghadirkan babak baru dalam dunia kesehatan. Di tengah kemajuan teknologi, pemanfaatan obat tradisional, yang selama berabad-abad menjadi pilihan utama bagi 80-85% populasi dunia-kembali mendapatkan perhatian besar. Bahan alam yang diwariskan dari berbagai budaya ini tidak hanya menyimpan nilai historis, tetapi juga potensi ilmiah yang terus dikembangkan agar lebih aman, efektif, dan berkualitas. Salah satu terobosan yang semakin menonjol dalam dua dekade terakhir adalah hadirnya biogenic metallic phytonanoparticles, yaitu nanopartikel logam yang disintesis menggunakan ekstrak tumbuhan. Teknologi ini selaras dengan prinsip green chemistry karena prosesnya minim limbah, lebih aman bagi lingkungan, dan relatif ekonomis. Berbagai logam seperti perak, tembaga, besi, zinc, hingga titanium dioksida dapat dihasilkan melalui metode hijau ini, menghasilkan partikel berukuran nano dengan sifat fisik, kimia, dan biologis yang unik. Keunggulan dari nanopartikel berbasis tumbuhan tidak hanya terletak pada proses sintesisnya yang ramah lingkungan, tetapi juga manfaat biologisnya. Banyak di antaranya menunjukkan aktivitas antioksidan, antimikroba, hingga potensi anti-aging. Ini membuka peluang besar untuk pengembangan produk kesehatan, kosmetik, suplementasi, hingga terapi medis berbasis bahan alam dengan standar ilmiah modern. Di sisi lain, teknologi laboratorium masa kini memungkinkan produksi senyawa alami secara lebih cepat dan terkontrol, menjadi alternatif dari proses isolasi tradisional yang memakan waktu lama. Perpaduan antara kearifan lokal dan teknologi mutakhir inilah yang kini membentuk wajah baru inovasi kesehatan. Kolaborasi antara ilmu pengobatan tradisional, prinsip green chemistry, dan rekayasa nanopartikel memberikan ruang riset yang semakin luas. Tidak hanya relevan untuk pengembangan terapi baru, tetapi juga untuk aplikasi di bidang katalisis, elektronik, dan material cerdas masa depan. Setiap logam pada skala nano menawarkan sifat yang dapat “diatur” sesuai kebutuhan, membuka pintu bagi teknologi yang lebih efisien dan berkelanjutan. Pada akhirnya, integrasi antara warisan alam dan inovasi ilmiah ini menjadi penanda penting dalam perjalanan menuju sistem kesehatan modern yang tidak hanya canggih, tetapi juga beretika dan selaras dengan lingkungan. Inilah masa depan di mana keberlanjutan dan teknologi berjalan beriringan, menghadirkan peluang tak terbatas bagi penelitian, industri, dan kesejahteraan manusia. Sumber: Puri, A., Mohite, P., Maitra, S., Subramaniyan, V., Kumarasamy, V., Uti, D. E., Sayed, A. A., El-demerdash, F. M., Algahtani, M., El-kott, A. F., Shati, A. A., Albaik, M., Abdel-daim, M. M., & Atangwho, I. J. (2024). Biomedicine & Pharmacotherapy From nature to nanotechnology : The interplay of traditional medicine , green chemistry , and biogenic metallic phytonanoparticles in modern healthcare innovation and sustainability. Biomedicine & Pharmacotherapy.