Di tengah meningkatnya kesadaran akan produk ramah lingkungan, sabun alami mulai jadi pilihan menarik dibanding sabun konvensional yang sering mengandung bahan kimia keras. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah sabun batang berbahan eco-enzyme dari kulit nanas yang dipadukan dengan ekstrak bunga telang. Eco-enzyme sendiri merupakan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah yang memiliki banyak manfaat, mulai dari sifat antibakteri hingga potensi sebagai bahan pembersih alami. Nah, ketika dikombinasikan dengan bunga telang yang kaya antioksidan, produk sabun ini diharapkan tidak hanya aman untuk kulit, tapi juga lebih eco-friendly. Dalam penelitian ini, proses pembuatan sabun diawali dengan fermentasi eco-enzyme selama 90 hari. Setelah itu, sabun yang dihasilkan diuji dari berbagai aspek, baik fisik maupun kimia. Parameter yang dianalisis meliputi pH, kadar air, asam lemak bebas, hingga angka lempeng total (ALT) untuk melihat kualitas mikrobiologinya. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sabun memiliki pH berkisar antara 8,72–8,83, yang masih dalam rentang aman untuk sabun batang. Kadar air berada di kisaran 9,50–10,42%, sementara kadar asam lemak bebas berkisar antara 6,52–12,99%. Secara keseluruhan, nilai-nilai tersebut telah memenuhi standar mutu yang ditetapkan, sehingga produk ini tergolong layak digunakan. Dari sisi organoleptik (uji kesukaan), hasilnya juga cukup menarik! Sebanyak 40% panelis menyatakan menyukai aroma sabun, bahkan 36,7% di antaranya sangat menyukainya. Ini menunjukkan bahwa selain aman dan ramah lingkungan, sabun ini juga memiliki daya tarik dari segi sensori. Secara keseluruhan, sabun berbasis eco-enzyme kulit nanas dan ekstrak bunga telang ini punya potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut, terutama dalam industri kosmetik berbasis bahan alami 🌱. Selain membantu mengurangi limbah organik, inovasi ini juga membuka peluang produk perawatan tubuh yang lebih sehat dan berkelanjutan. Sumber: https://jurnal-id.com/index.php/jupin/article/view/1332
Produk telur ayam ras merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor peternakan yang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Di Kabupaten Sumba Tengah, penjualan telur ayam ras yang dikelola oleh UPTD Pembibitan dan Agribisnis Ternak menjadi bagian strategis dalam mendukung distribusi dan ketersediaan produk peternakan. Namun, keberhasilan penjualan tidak hanya ditentukan oleh aspek produksi, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat memandang kualitas dan layanan yang diberikan. Persepsi konsumen menjadi faktor kunci yang dapat membentuk citra produk sekaligus memengaruhi keputusan pembelian. Melalui pendekatan analisis sentimen, penelitian ini menggali tanggapan dan opini masyarakat terhadap produk telur ayam ras yang dipasarkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sentimen publik memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap performa penjualan. Respon positif dari konsumen cenderung mendorong peningkatan penjualan, sedangkan tanggapan negatif dapat berdampak pada penurunan minat beli. Temuan ini menegaskan pentingnya menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan pelayanan kepada konsumen. Upaya seperti menjaga kesegaran telur, memastikan distribusi yang baik, serta memberikan pelayanan yang responsif dapat membantu membangun persepsi positif di masyarakat. Dengan memahami pola sentimen konsumen, pengelola usaha peternakan dapat menyusun strategi pemasaran yang lebih tepat sasaran. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan daya saing produk, tetapi juga mendukung keberlanjutan usaha agribisnis di daerah. Sumber: https://www.ojs.unkriswina.ac.id/index.php/inovatif/article/view/980
Bolen merupakan salah satu produk pastry yang cukup populer, umumnya dibuat dari isian pisang yang dibalut dengan adonan berbasis tepung terigu. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan pangan yang lebih bernilai gizi, inovasi pengembangan produk bolen mulai dilakukan, salah satunya melalui substitusi sebagian tepung terigu dengan tepung bayam (Amaranthus hybridus L.). Pemanfaatan tepung bayam dalam produk bolen diharapkan dapat meningkatkan kandungan nutrisi, khususnya serat dan komponen bioaktif, tanpa mengurangi kualitas sensori yang disukai konsumen. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji karakteristik organoleptik (warna, aroma, rasa, dan tekstur) serta sifat fisikokimia dari bolen dengan berbagai tingkat substitusi tepung bayam. Formulasi yang diuji terdiri dari empat perbandingan antara tepung terigu dan tepung bayam, yaitu 96,67%:3,33%; 95,34%:4,66%; 94%:6%; dan 92,67%:7,33%. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa formulasi terbaik diperoleh pada substitusi tepung bayam sebesar 3,33%. Pada komposisi ini, produk bolen masih memiliki karakteristik sensori yang paling disukai panelis, baik dari segi rasa, warna, maupun tekstur. Dari sisi fisik, produk terbaik menunjukkan nilai kecerahan (L*) sebesar 50,25, nilai kemerahan (a*) 2,02, dan kekuningan (b*) 21,60, yang menghasilkan warna kuning kemerahan yang menarik. Selain itu, nilai chroma dan °hue masing-masing sebesar 21,69 dan 84,66 mengindikasikan intensitas warna yang cukup baik. Tekstur bolen juga tergolong optimal dengan nilai kekuatan sebesar 26,76 N, yang mencerminkan struktur produk yang cukup kokoh namun tetap empuk saat dikonsumsi. Karakteristik kimia produk menunjukkan kadar air sebesar 28,99%, kadar abu 2,22%, protein 1,69%, lemak 27,42%, serta serat kasar sebesar 0,05%. Hasil ini menunjukkan bahwa substitusi tepung bayam tidak hanya mempengaruhi sifat fisik dan sensori, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap komposisi kimia produk. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan tepung bayam dalam jumlah tertentu dapat menjadi alternatif inovasi dalam pengembangan produk bakery yang lebih bernilai gizi. Pendekatan ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai referensi dalam pengembangan pangan fungsional, khususnya di bidang teknologi rekayasa pangan. Sumber : https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/Leuit/article/view/32385
Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel menjadi salah satu solusi strategis dalam mengurangi limbah rumah tangga sekaligus menyediakan sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, proses produksi biodiesel dari minyak bekas melalui reaksi transesterifikasi masih menghasilkan berbagai pengotor, seperti gliserol, sabun, dan sisa katalis, yang dapat menurunkan kualitas produk akhir. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikembangkan suatu metode pemurnian inovatif yang mengintegrasikan proses sentrifugasi dan elektrokoagulasi. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas biodiesel, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran aplikatif bagi siswa di bidang teknik kimia industri. Melalui metode ini, proses pemurnian dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan metode konvensional. Sentrifugasi berperan dalam mempercepat pemisahan fase antara biodiesel dan gliserol dengan memanfaatkan gaya sentrifugal. Proses ini memungkinkan pemisahan terjadi dalam waktu yang lebih singkat dan dengan hasil yang lebih jelas. Selanjutnya, elektrokoagulasi digunakan untuk mengendapkan zat pengotor yang masih terlarut dalam biodiesel. Teknik ini bekerja dengan memanfaatkan arus listrik untuk membentuk flok yang mampu mengikat dan mengendapkan kontaminan secara efektif. Hasil penerapan metode terintegrasi ini menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan. Waktu pemurnian dapat dipersingkat hingga sekitar 60% dibandingkan metode pencucian basah maupun kering yang umum digunakan. Selain itu, biodiesel yang dihasilkan memiliki tampilan yang lebih jernih dan stabil, menandakan kualitas yang lebih baik. Kegiatan ini juga dikemas dalam bentuk pelatihan berbasis praktik langsung di laboratorium, sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dalam setiap tahapan proses, mulai dari persiapan bahan, pengoperasian alat, hingga evaluasi hasil. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa secara signifikan, yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata hingga lebih dari 60%. Lebih dari itu, program ini memberikan nilai tambah bagi institusi pendidikan dengan memperkuat wawasan siswa terkait energi terbarukan, meningkatkan kompetensi teknis dalam penggunaan peralatan laboratorium, serta mendukung implementasi pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan kebutuhan dunia industri. Dengan demikian, metode ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas biodiesel, tetapi juga berperan dalam penguatan kompetensi vokasi yang berpotensi untuk diterapkan secara luas di berbagai sekolah kejuruan. Sumber: Fauziyah, M., Kartikowati, C. W., Puspitasari, D. A., Saptati, D., Hidayati, N., Yulaichah, S., Kimia, D. T., Brawijaya, U., Malang, K., Timur, J., Teknik, K., Industri, K., Kepanjen, S. M. K. M., & Timur, J. (2025). Integrasi Proses Sentrifugasi-Elektrokoagulasi sebagai Inovasi Pemurnian Biodiesel Minyak Jelantah bagi Siswa menurunkan sifat fisik maupun kimia POME ( Palm Oil Mill Effluent ) yang lebih cepat dan minim limbah . grade . Hal ini dikarenakan parameter. 22(3), 338–349.
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam bidang kesehatan, khususnya dalam desain dan produksi perangkat prostetik. Salah satu pendekatan yang kini banyak dikembangkan adalah penggabungan antara reverse engineering (RE) dan additive manufacturing (AM). Kombinasi kedua teknologi ini dinilai mampu menghadirkan solusi inovatif yang lebih personal, efisien, dan berkualitas tinggi bagi pengguna alat bantu prostetik. Reverse engineering memungkinkan proses pemodelan ulang suatu objek berdasarkan bentuk fisik yang sudah ada, seperti bagian tubuh pasien. Dengan bantuan teknologi pemindaian, data anatomi dapat dikonversi menjadi model digital yang akurat. Model ini kemudian digunakan dalam proses additive manufacturing, yaitu teknik pencetakan tiga dimensi (3D printing) yang memungkinkan pembuatan produk secara bertahap lapis demi lapis. Integrasi ini membuka peluang besar dalam menciptakan prostetik yang lebih sesuai dengan kebutuhan individu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan RE dan AM dalam pengembangan prostetik mampu meningkatkan presisi dimensi dan kualitas mekanis produk. Selain itu, proses produksi menjadi lebih cepat dan biaya dapat ditekan dibandingkan metode konvensional. Tingkat kenyamanan dan kepuasan pengguna juga cenderung meningkat karena perangkat yang dihasilkan lebih sesuai dengan karakteristik tubuh masing-masing individu. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah terkait dengan biokompatibilitas material yang digunakan, agar aman dan nyaman saat digunakan dalam jangka panjang. Selain itu, belum adanya standar baku dalam proses desain dan produksi juga menjadi kendala dalam implementasi yang lebih luas. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara peneliti, tenaga medis, dan pihak industri untuk terus mengembangkan teknologi ini. Dengan dukungan riset berkelanjutan dan inovasi yang tepat, integrasi reverse engineering dan additive manufacturing diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan kualitas hidup individu yang membutuhkan prostetik.